Rabu, 30 Januari 2013

Sejarah Muslim Karangasem



KOMUNITAS Muslim di Kabupaten Karangasem yang berlokasi di ujung timur Bali, telah berkembang sejak jaman pemerintahan Raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Nyama selam (saudara Islam), begitu orang Bali biasa menyebut, memiliki ikatan tali sejarah yang erat dengan Puri Karangasem dan telah lama hidup berdampingan secara rukun dengan umat Hindu.

Peristiwa itu bermula setelah laskar Karangasem dibawah pimpinan Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem berhasil mengalahkan dan menduduki Kerajaan Selaparang dan Pejanggi di Lombok pada tahun 1692. Sejak itu, raja membina hubungan baik dengan umat Muslim di Lombok. Seiring waktu, terjadi migrasi umat Muslim dari Lombok ke Karangasem. Begitu pula sebaliknya.

Bahkan, salah satu keturunan Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem yang menjadi raja di Lombok, yakni Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem, memperistri keturunan Datu Selaparang, Denda Fatimah, yang kemudian berganti nama menjadi Denda Nawangsasih. Selain membangun Taman Narmada dan Taman Mayura di Lombok, Anglurah Gede Ngurah juga sangat memerhatikan kehidupan umat Muslim. Salah satunya dengan cara membuat perwakilan di Jeddah yang dipimpin oleh Haji Majid, untuk mempermudah umat Muslim di Lombok dan Karangasem menunaikan Ibadah Haji. Ketika Belanda ingin menguasai Lombok, Anglurah Gede Ngurah diasingkan ke Batavia (Jakarta) pada tahun 1894, hingga wafat setahun kemudian.

Salah satu bukti kedatangan umat Muslim pertama di Karangasem adalah sebuah makam kuno yang terdapat di dekat Pantai Ujung, Karangasem. Ada dua versi yang beredar tentang kisah makam tersebut. Yang pertama, konon makam itu adalah makam Raja Pejanggi yang ditawan Raja Karangasem hingga meninggal. Yang kedua mengisahkan itu makam Ratu Mas Pakel, atau lebih dikenal dengan nama Sunan Mumbul, orang kesayangan Raja Karangasem, yang dibunuh di Pantai Ujung ketika akan kembali ke Lombok. Konon, dia dibunuh oleh orang-orang yang tidak suka melihat kedekatan Raja Karangasem dengan umat Muslim.


Sejarah keberadaan makam itu memang masih simpang siur. Namun, yang pasti, makam itu sangat dihormati oleh umat Muslim di Karangasem, dan dianggap sebagai makam leluhur mereka. Muda Wijaya, yang berasal dari Kecicang, menuturkan bahwa lima belas hari setelah Lebaran, umat Islam di Karangasem biasanya ziarah ke makam kuno tersebut.

Pada jaman kerajaan, banyak orang dari komunitas Islam di Karangasem yang diangkat menjadi laskar, bahkan punggawa. Itulah sebabnya kampung atau pusat-pusat komunitas Islam di Karangasem tersebar secara strategis membentuk semacam benteng pertahanan untuk keamanan Puri Karangasem. Pada lapisan pertama, sebagai pertahanan di bagian selatan, terdapat kampung Ujung Pesisir, Ujung Sumbawa, Ujung Desa, Segara Katon, Dangin Sema. Dari Pantai Ujung hingga ke sebelah timur dan utara puri, terdapat kampung Nyuling, Tihing Jangkrik, Kampung Anyar, Karang Sasak, Tibulaka, Bukit Tabuan, dan Karang Cermen. Di bagian barat ada kampung Bangras, Karang Langko, Karang Tohpati, Kampung Ampel, Grembeng, Karang Tebu, Juwuk Manis.

Sebagai lapisan kedua, di sebelah barat adalah Subagan (termasuk Karang Sokong), Tegala Mas, Kecicang, Kedokan, hingga Saren Jawa dan Sindu (di Kecamatan Sidemen). Komunitas Islam di Saren Jawa konon tidak berasal dari Lombok, melainkan dari Jawa (Majapahit) yang telah berkembang sejak Bali diperintah oleh Raja Dalem Waturenggong yang beristana di Klungkung. Kisah Saren Jawa bermula dari jasa besar seorang utusan dari Jawa yang bernama Raden Kyai Jalil. Dia berhasil membunuh seekor wadak (sapi besar) yang membuat kekacauan di sebuah komunitas Muslim di wilayah Kerajaan Karangasem. Lokasi terbunuhnya sapi itu disebut sare yang artinya tidur. Karena yang berhasil membunuh sapi itu adalah orang Jawa maka lokasi itu disebut Saren Jawa.

Sedangkan di Kecamatan Manggis, terdapat Kampung Buitan sebagai pertahanan di bagian paling barat, yang juga berkaitan dengan pertahanan di bidang perdagangan dan pelayaran. Pada jaman kerajaan, Buitan pernah menjadi daerah pelabuhan dan bandar perdagangan.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, pada jaman kerajaan, sejumlah mubaliq (pengajar/ahli agama Islam) juga pernah datang ke Karangasem. Di antaranya adalah Sayid Hassan Al Idrus yang menetap di Telaga Mas (Subagan), Sayid Syeh Almulah Hela yang tinggal di Karang Langko. Sementara itu, Abdullah Bin Salom Bagarib (dari Arab Selatan) diperkirakan datang ke Karangasem pada tahun 1859.


Selain mengajarkan agama, orang Islam datang ke Karangasem juga untuk tujuan berdagang, salah satunya adalah Fidahussin Jiwakhanji dari Ujoin, India Tengah, yang datang sekitar tahun 1916. Kemudian, pada tahun 1918, datang keluarga Jiwajirasulji dari Mandar Rajastan, India Utara. Pada tahun 1920 datang Ali Husein Rasul Bhay dari Ujoin, India Tengah. Dan, sekitar tahun 1930 keluarga Fiddahusein Hasan Bhay datang ke Karangasem. Hingga kini keturunan mereka masih menetap dan membuka toko di Kota Amlapura (Ibu Kota Karangasem), dan ada juga yang menyebar ke Klungkung dan Denpasar.

Pada masa-masa awal perkembangan Islam di Karangasem, pembangunan mesjid dan langgar sering mendapat bantuan dari Puri Agung Karangasem, yang saat itu diperintah oleh A.A. Agung Anglurah Ketut Karangasem sebagai stedehouder II yang diangkat Belanda tahun 1908. Dia adalah dinasti keenam dari Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem yang memimpin penyerangan ke Lombok.

Pada jaman kerajaan, hubungan kekerabatan Puri Karangasem dengan komunitas Muslim di Karangasem sangat erat, dan penuh dengan solidaritas yang terbina sejak lama. Pihak Puri sering membantu dana dan perbekalan umat Islam yang mau naik Haji. Begitu pun pada saat hari-hari raya Islam, seperti Idul Adha, Idul Fitri, pihak Puri juga turut aktif membantu, misalnya berupa hasil-hasil bumi dan hewan kurban. Pihak Puri juga suka memberi hadiah tanah sebagai wakaf kepada komunitas Islam yang dianggap berjasa kepada Puri. Misalnya, komunitas Islam di Dangin Sema, Nyuling dan Subagan memiliki ikatan yang disebut pauman. Bila ada upacara atau kegiatan di Puri, komunitas pauman turut terlibat membantu.

Bahkan, hingga kini, Komunitas Islam di Kampung Anyak dan Bukit Tabuan memiliki tugas turun temurun sebagai juru sapuh dan juru tabuh “bende” (gong kecil) pada saat piodalan (upacara) di Pura Bukit yang disungsung keluarga Puri Karangasem. Pura Bukit merupakan pura keramat dan bersejarah yang pernah menjadi titik pemberangkatan laskar Karangasem saat menyerbu Lombok dengan dipandu ribuan kupu-kupu kuning yang menyeberangi Selat Lombok. Bende yang pernah dipakai genderang perang itu sangat sakral dan kini nyaris keropos dimakan usia. Setiap piodalan, replika bende ditabuh oleh umat Islam sebagai simbolisasi kekerabatan dengan Puri Karangasem.

Di Karangasem, terdapat sejumlah kesenian bernuansa Islam. Misalnya, musik preret dan rebana yang bisa ditemui di Nyuling, biasanya dipentaskan saat upacara perkawinan. Kampung Dangin Sema terkenal dengan Wayang Sasak berlakon Menak dengan dalang paling kondang Haji Kasim Ahmad. Selain itu, di Kecicang, Karang Tohpati dan Bangras, bisa disaksikan tari rudat yang penuh gerak ketangkasan dan keperwiraan dengan kostum ala prajurit. Sedangkan, di Subagan terdapat seni pencak silat yang dikembangkan oleh Daeng Plele asal Bugis yang meninggal tahun 1936.

Di Karangasem, umat Islam merayakan Lebaran dengan penuh suka cita dan rasa kebersamaan yang tinggi. Menurut penuturan Ahmadi dari Kecicang, usai Sholat Id, para ibu dan remaja putri akan membawa makanan, kue-kue dan buah-buahan ke mesjid. Kemudian mereka menggelar acara megibung dengan penuh rasa syukur. “Setelah itu dilanjutkan dengan acara bebas, seperti halal bi halal, melancong, dan sebagainya,” ujar Ahmadi.

Megibung merupakan tradisi makan bersama yang dipopulerkan oleh Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem ketika laskar Karangasem beristirahat setelah peperangan di Lombok. Megibung penuh dengan aturan dan disiplin ketat yang mengarah kepada semangat kebersamaan. Hingga kini megibung menjadi tradisi makan bersama yang unik di Karangasem dan biasanya digelar berkaitan dengan kegiatan atau perayaaan adat dan agama, baik oleh umat Hindu maupun Islam. Makanan dalam acara megibung yang digelar oleh umat Islam di Karangasem tidak memakai daging babi dan darah, meski masakannya kebanyakan bernuansa Bali, seperti lawar, sate lilit, komoh.

Selain itu, menurut penuturan Muda Wijaya, sebagian besar umat Islam di Kecicang juga masih memegang teguh tradisi ziarah ke kuburan leluhur. Ada sebuah makam kuno di Tohpati, Budakeling, Kecamatan Bebandem yang sering diziarahi oleh umat Islam dari Kecicang dan sekitarnya saat Hari Raya Lebaran, yakni makam Tuan Guru Balok Sakti. “Banyak yang meyakini itu makam leluhur umat Muslim di Kecicang,” ujar Muda Wijaya.[ ]

4 komentar:

  1. suksme tu aji gung de sampun nulis babad singkat islam ring krngsm dumogi tu aji sehat lan sejahtera, dumogi kerukunan tetep erat

    BalasHapus
  2. suksme tu aji gung de sampun nulis babad singkat islam ring krngsm dumogi tu aji sehat lan sejahtera, dumogi kerukunan tetep erat

    BalasHapus
  3. Haturnuhun sejarah kerukunan beragama diKarangasem....semoga kerukunan tsb tetap terjaga selamanya... Astungkara tuaji....

    BalasHapus
  4. Saya tertarik dengan cerita ini.krna sama seperti cerita kakek sayang tlah alm dan beliau cucu dr raja yg di buang di batavia.sekarang kuburannya ada di karet bivak. Dgn nama ratu a.anglurah gede ngurah karang asem.

    BalasHapus